Wednesday, April 10, 2019

1-Minute-Stop

1-Minute-Stop

Last months, or even last years, maybe are the most moments that “consume” myself. Money and time wasted unreasonably.

I ever read about an article or blog-i forget, tells that you have to questioning yourself when you want to buy something. Or maybe it could refer to Marie Kondo way, which sparks joy? That you have to make sure yourself that thing is really important for you.

Then, (finally) I try to practice this. Something I called 1-minute-stop. When I wanna buy something, I stop first. Think about what-ifs in 1 minute. If there’s some make-sensed reasons then I won’t buy it. Or at least, I’ll postpone it. There are many things I finally not buying them and now I’m happy enough with my current havings.
Not only when buying something, but when I want to do something too. I try to do 1-minute-stop to ask myself, “Is this what should I do? Why should I do this? What if I don’t do this?” ...so on and so on. Even just for a little thing like when I want to post something in Instagram, now I’m thinking “Will this give a good impact? Is this caption good enough to tell a story? Are you ready if all your following see this?”
Magically, it is effectively works! I think the reason is that we just have to stop first before when we’re in urge, to bring back our consciousness, because actually-based on what I did, the first thought when I stop is my true heart speaks and turns out that’s my last decision. So, I thank to myself that I still have a good logic and pure heart to decide :-P

Now I’m curious.. Imagining how if I do this for everything? How much things can change my priority? How much money that I could save? How much time that I could use wisely?

And, how much this affect myself or even my life?

Wednesday, January 9, 2019

Aku Rindu

Dulu, kita teman dekat. Kalau kamu bilang, “sahabat”. Kita sebenarnya sering beda pendapat. Tapi tetap saja, hubungan kita erat.
Dulu, kupikir aku yang selalu ada untukmu. Karena yang kuingat, kamu yang selalu cerita untukku. Kamu yang selalu butuh dan cari-cari aku.
Dulu, kurasa aku yang selalu sabar buatmu. Aku yang selalu siap dengar dan bantu apa saja untukmu.
Dulu, kamu dan aku selalu berdua. Padahal kelompok main kita lebih dari dua. Tapi, katanya memang kamu paling nyaman sama aku saja.
Lalu..
Sampai akhirnya..
Aku jadi orang yang paling egois. Jadi orang yang paling semaunya. Jadi orang yang paling gak rasional. Mengungkapkan segala rasa yang padahal jika dipikir kembali, itu seperti sementara saja. Sial. Semua message yang kukirim dari Bandung waktu itu sudah terhapus. Aku gak bisa inget apa dosa yang udah aku ucapkan padamu. Yang pasti, kalimat yang terlontar hanya sebuah hina. “I don’t believe in you. I don’t believe your story.” Gatau deh. Kok bisa-bisanya aku ngomong gitu. Jikalaupun terhasut beberapa teman, semuanya tetap saja salahku. Bagaimana mungkin, aku tidak percaya padamu. Memang. Ada saja berita-berita tidak enak tentangmu. Dan kamu pun tau hal itu. Tapi, jika dipikir matang saat ini, who cares. Jika mereka bilang bicaramu adalah bohong, bisa saja bicara mereka juga bohong. Dan tak sampai pula otakku, apabila kamu bohong padaku untuk apa?
Awal-awal, kupikir mungkin mereka ada benarnya. Kadangkala ceritamu memang gak make sense. Tapi, nalarku hampir tak pernah salah. Nalarku padamu, “She is a good girl.” Pikirku, ceritamu hanya memang agak berbeda dari teman kita kebanyakan. Maka, wajar saja jika sulit untuk menjadikannya relate padaku.
Awal-awal, kupikir aku hanyalah ekormu. Yang mesti mengikutimu, mendengarkanmu, dan menjaga perasaanmu. Kamu yang sudah memberikan banyak ekspresi padaku. Mulai dari gelak tawa hingga menangis sesenggukan. Semua ekspresi rasa yang sulit aku terima karena aku bukan orang yang mudah mengungkapkan rasa di depan orang. Aku pikir kamu berlebihan. Tapi, ekspresi itu pasti hanya kamu tunjukkan pada orang-orang yang kamu percaya saja.
Awal-awal, kupikir kamu memandang rendah aku. Bahwa kamu hanya anggap aku selalu di bawah levelmu. Aku hadir hanya untuk telingamu serta sandaranmu.
Tapi..
Setelah message panjang dari Bandung serta English discussion—yang suka kugunakan untuk menyampaikan perasaanku sesungguhnya, aku ingin memaki diri.
Hingga hari ini.
Kini aku lebih dewasa. Lebih menyadari betapa bodohnya. Bahwa dulu, kita sebenarnya sama-sama butuh. Kamu butuh aku, dan aku butuh untuk dibutuhkan oleh orang lain. You need a companion, and I need acceptance. We gave each other. Kamu nyaman bercerita padaku, layaknya aku nyaman menyadari bahwa masih ada yang percaya padaku. Karena waktu sekolah dulu, tingkat insecurity-ku saat itu mungkin bisa dibilang sedang tinggi-tingginya. Dengan segala macam topik bicara serta canda yang disuguhkan, jarang yang menarik untukku. Beda dengan saat aku mendengarkan ceritamu. Pikiranku lebih terbuka, ceritamu variatif. Ya. Kamu hanya berbeda dengan yang lain saja, maka susah untuk ada yang relate denganmu.
But..
You are truly a good woman. You are strong, educated, beautiful. Kamu jauh lebih dewasa ketimbang diriku. Aku sudah jadi sangat malu. Semakin kamu bersikap baik padaku, semakin aku merasa malu. Semakin aku menyesal. Telah merusak hubungan mutualisme kita.
Semakin sedih bahwa kamu telah menghapus namaku dari daftar nama kesayanganmu.
Kini kamu sudah bertunangan.
Masih kuingat kata-katamu:
“You definitely will be my bridesmaid!”

And now I know, definitely I won’t be your bridesmaid.