Tuesday, February 14, 2017

Thursday, February 9, 2017

Pagi-pagi di Hari Kini

Tersedak-sedak aku di pagi-pagi. Membacanya membuatku langsung membuka obrolan kita terakhir kali. Meraung-raung aku jadinya. Aku tidak tau kapan terakhir kali aku bilang sayang padamu, kapan terakhir kali aku memelukmu, kapan terakhir kali aku terisak mengeluh padamu, kapan terakhir kali aku mencari-carimu, kapan terakhir aku mencium tanganmu. Sosokmu begitu kuat, begitu bisa diandalkan, begitu tidak pernah menangis di depanku hingga aku dapat memiliki kesempatan mengusapnya. Berkali-kali dirimu mengomel ini-itu tidak sebanyak sayangmu. Berkali-kali ketidakpedulianmu tidak sebanyak kekhawatiranmu. Sedihkah kamu memiliki kami yang tidak pandai menyampaikan cinta? Kami hanya seringkali memerlukanmu ketimbang menawarkan diri padamu. 

Dahulu, kita tertawa. Pada jenaka yang tiba-tiba ada dan hanya kita semua yang mengerti saja. Dahulu, kita saling menatap. Pada tiap pagi di meja makan dengan sarapan tersedia. Dahulu, kita ada banyak tanya. "Bagaimana hari ini?" "Capek, ya?" "Besok mau kemana?" "Mau makan apa?" Tapi semuanya selalu datang darimu, dan aku hanya menerima. Yang bahkan menerimanya pun aku tidak pandai.

Kini aku dewasa. Aku merasa semua sudah perlu kutanggung semua, hal ini hal itu adalah aku yang pegang semua. Sampai kita beda dunia. Aku anggap dirimu tak tau apa-apa, tidak membiarkan dan mengantarkanmu tau cerita dan suka dukaku. Tiba-tiba saja kamu jadi tidak tau apa-apa tentangku, "Loh sama siapa?" "Emang pernah?" "Kapan itu?" "Itu apa?"

Lalu aku sadar, kita jauh. Lebih dari jarak antar kota. Kita sejauh umur, yang tak tau kapan habisnya.

Aku rindu. Pada setiap canda dan senyummu. Aku mau. Memberi hadiah dan mengusap punggungmu pada lelah. Aku selalu. Sayang dan butuh dirimu.
Namun, aku tidak pandai pada semua itu. Hingga saat ini aku tau, we never could pay everything you give, Mom.

Sunday, July 17, 2016

Thank God for Today

We busy playing with smartphone.
Don't know the sky turns orange from dawn.
We scroll timeline that we don't need to see.
Don't realize stars appears so shiny.
Head up and look up to the sky,
did we thank God for today?

-

That was really tiring day. Being as intern in Jakarta is not as easy as what I thought. About 2hours from home to work, multiple times equals 4hours. To be honest, at first I feel that I really wasted my life for 4hours on the way. I really shocked with the struggle and life in train.

But after one month being intern, I learned so many things. My 4-hours-in-train ain't really wasted. It was like I can learn new things everyday. Not just about design skill, branding, or any graphic design related things. But I learned so much more about life. How I change from the couch potato (or we can say "mager"-person) into grateful person (still learning though). How a little thing happens to be something to thank. How anything could I think about deeper than before.

And then, day by day I get more sensitive. I get teary eyes just because seeing mother with her tired child (well, you know how annoying them..) in crowded train at night. Or when I see old man/woman going alone with far destination.
Now, I know that "Jakarta itu Keras" or "Nyari uang itu susah" more than a saying. And I amazed with women who has tough personality. Women is really strong.

But from all of those (meaningful) days, the most thoughtful thing is: I learn that we have to be grateful. Because we'll be happier day by day as we always have something new to thank to God.